Rabu, 16 Maret 2011

Akhir Hidup Yg Baik

“setiap manusia pasti akan merasakan  mati.”
Aku ingat ayat ini saat menyaksikan kondisi bak uwo ku sekarang. Beliau sudah sangat uzur sekali. Karena penyakit yang dideritanya, tadi aku mencium aroma pesing yang tidak sedap di pakaian yang dikenakannya. Ya Allah…memang benar hanya Engkau yang Maha Perkasa dan Maha Hidup. Dulu, aku ingat sekali betapa giatnya bak uwo bekerja mencari uang. Bahkan mungkin (aku berpikir) yang dipikirkannya lebih banyak tentang uang dan bekerja di ladang atau sawahnya. Perhitungan matematikanya mantap sekali kalo sudah berkaitan dengan uangnya, baik yang dipinjam ataupun hak yang akan diperolehnya.
Sekarang tubuh kurus kering dan ringkih itu sudah tak sanggup lagi bekerja, benar-benar tak sanggup lagi setelah sebelumnya dia berkali-kali berusaha untuk tetap bekerja dan akhirnya menyerah dengan keuzurannya dan menyerahkan ladangnya untuk diolah oleh amak. Beliau lebih banyak diam, tidak banyak bicara seperti dulu. Kalo datang ke rumah (setelah berjalan dengan tertatih-tatih dari rumah darek), beliau langsung duduk di palanta luar, terus aku samperin dia dan tanyakan apa dia sudah makan atau belum. Lalu aku tawari beliau makan, dan kalo dia setuju untuk makan, maka dia suruh aku untuk mendinginkan nasi untuknya. Lalu dia akan masuk ke rumah, tiduran di sofa sampai ia rasa nasinya sudah dingin baru ia makan. Kemudian, setelah beliau makan, duduk, lalu pulang ke rumah darek lagi. Saat memakai sandal, dia kelihatan kesusahan dengan kaki kirinya, sandalnya susah untuk dikenakan karena kakinya sulit digerakkan atau direnggangkan untuk menjepit sandal.
Bak uwo, aku akan sangat sedih kehilangannya. Bak uwo adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupku. Beliaulah yang dengan rela meminjamkan uangnya untuk membayar uang masuk kuliahku. Saat itu kami sangat kesulitan dalam mencari uang untuk kuliahku. Beliau bagaikan bendahara yang siap dipinjam uangnya saat kami membutuhkan uang untuk keperluan yang sangat penting.
Dalam keadaan sakit, bak uwo tidak mau shalat walaupun sudah ku kasih tahu ada keringanan dalam mengerjakan shalat bagi orang sakit. Tapi beliau tetap enggan untuk melaksanakannya. Alasannya karena penyakit yang dideritanya menyebabkan ia selalu bernajis. Aku tidak bisa memaksakannya dengan dalil apapun yg sangat sedikit aku ketahui.
Hikmah yang dapat aku pelajari dari sini adalah, mumpung masih muda aku ga mau hidup dibelenggu fatamorgana dunia sehingga kurang atau sedikit sekali mempersiapkan bekal amalan untuk kehidupan akhirat yang abadi. Sekarang umurku sudah lewat kepala dua, jika jatah umurku 60 tahun, dikurangi dengan waktu tidak efektif maka sangat sedikit sekali waktu yang kumiliki untuk menghapus dosa-dosaku dan menyiapkan bekal amalan akhirat. Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah, tetap saja melakukan amalan2 sholeh karena rasa syukurnya pada Allah. Bagaimana dengan kita manusia yang sering tergoda dan terjebak oleh jerat-jerat setan dan nafsu duniawi. Neraka itu memang dikelilingi oleh hal-hal yang indah sehingga mudah sekali untuk masuk ke dalamnya. Sedangkan surga sangat sulit diperoleh karena butuh perjuangan dan menahan diri dari hal-hal indah yang menipu. Ya Rabb, matikanlah kami dalam keadaan khusnul khatimah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar